Jumat, 20 April 2012

IAm a nurse


        Dengan mata yang setengah redup, aku bangkit dari tempat tidur ku. Walaupun masih sangat mengantuk, aku tetap melangkah menuju kamar mandi. Bahagia ku kini sudah sampai di ubun ubun, karena hari ini acara capping day ku. Aku bergegas mandi dan mempersiapkan segala kebutuhan ku.
        Sama halnya dengan teman teman se asrama ku, di pagi buta semua penghuni asrama sudah bangun dan sibuk lalu lalang. Obrolan obrolan dan gelak tawa terdengar dari setiap sudut kamar. Teman teman dikamar ku juga sudah mulai sibuk, menyapu wajahnya dengan blush on, agar terlihat cantik di acara capping day nanti.
Seketika aku melesat mengikuti jejak mereka, mulai menyapu wajah ku dengan blush on warna warni.
“yaps, perfect. Saatnya tampil”
Gumam ku dalam hati. Dan aku bergegas menuju lantai sepuluh dengan teman teman ku.
Belum jadi aku melangkah tiba tiba handphone ku berdering.
“hallo assalammualaikum”
Sapa suara itu
“iya walaikum salam”
Jawab ku.
“gimana ndok acara capping day mu? Rame gag yang dateng”
“Alhamdulillah rame kok mak, banyak yang dateng. Emak sama embaknya ndut juga dateng, temen temen yang lain keluarganya juga dateng”
“oh ya sudah, kamu jaga diri baik baik ya ndok. Maaf emak sama bapak gag bisa dateng, kamu tau sendiri to adekmu sakit sakitan gag tega kalo ninggalin”
“ia mak aku ngerti, ini juga Cuma sepintas acara capping day jadi kalo gag dateng juga gag apa apa. Ya sudah salam ia buat semua yang ada dirumah, jangan lupa do’ain aku. Assalammualaikum”
Dengan tangan gemetar aku menutup telepon itu. sedikit kecewa dengan keduanya karena tak sempat hadir di acara bahagia ku ini. Seketika air mataku melesat jatuh ke pipi. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal dihati ku, sempat teriris mendengar mereka tidak hadir. Tapi ya sudah lah.
“iam ok”
Teriak ku dalam hati, sambil tersenyum lebar.
Bergegas aku menuju lantai sepuluh. Acara baru dimulai jam 09.00 tapi disana sudah terlihat puluhan mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul, sebagian lagi terlihat sedang mengobrol dengan orang tua nya. Ya, aku ditemani ndut, dhedhe, kak chu, tiga teman setia ku. Mereka selalu setia menghibur ku saat aku sedih. Kali ini aku lebih memilih menyendiri di ujung gedung…, meneropong alam yang menghijau, mencoba menghibur diri. Tapi tetap saja air mata ku bandel.., tetap saja jatuh menetes. Sedih, teringat emak dan bapak gag sempet dateng..,
“heh.., wayan ngapain disini sendirian? Gag usah isos deh, mendingan ikutan bareng kita foto foto”
Ndut membangkitkan aku dari lamunanku, dan seketika menyeret ku ditengah tengah kerumunan teman teman yang sibuk berfoto, menyiapkan pose paling jihuy buat di jepret ke kamera. Mau gag mau aku ikut gila gilaan bareng temen temen.
        Beberapa menit kemudian acara segera dimulai. Semua mahasiswa dan mahasiswi serta para orang tua murid berbondong bondong memasuki ruangan.
Ini hari hari bahagiaku bersama ndut, kak chu, dhedhe, erik, piyot, dan temen temen lain. Detik detik pemasangan capp.
Seketika ruangan menjadi hening, satu persatu nama mulai di panggil.
“aan fuji, adnan firdaus,  atiek pudihang, desti fhina, dwi asih”
Satu persatu mahasiswa dan mahasiswi mulai maju ke mimbar, pasang capp. Nampak para orang tua yang anaknya di panggil terlihat berdiri dan menjepret anaknya dengan kamera handpone. Begitu seterusnya.
Tiba di urutan terakhir, absen ku paling akhir bersama dengan winda dan wiji.
Kami bertiga maju sesuai dengan urutan.
Haru lagi dalam benakku. Ketika ku langkahkan kaki ke mimbar, tak terlihat seorangpun berdiri dan menjepret ku dengan kamera foto.
“ok wayan keep smile, don’t cry”
Gumam ku dalam hati, tapi tetap saja air mataku tetap menetes dengan indahnya saat capp itu di pasang di kepalaku.
“andai saja kalian menyaksikan aku disini, aku ingin mengukir senyum di bibir kalian”.
Pikir ku mulai melambung tinggi lagi, berharap keduanya hadir disini.

       

Tiga hari kemudian, kami mulai disibukkan dengan kegiatan kampus, karena kampus kita akper husada gag pernah mengijinkan kami untuk berleha leha membuang buang waktu dengan sia sia. Setelah capping day, kami langsung di terjunkan praktek ke ruangan. dan saat itu kami semua gag ada gambaran sama sekali tentang ruang praktek. Tapi ya tetep sebagai murid yang selalu taat dengan peraturan, kami selalu menyiapkan diri dengan bekal ilmu yang kami dapat di pendidikan.
Waktu itu aku, dhedhe, ndut, kak chu, erik gag dines satu ruangan kami dipisahkan. Aku and ndut di paviliun jantung, dhedhe di paviliun mawar, kak chu and erik di pavilun melati.
“kawan, coba deh liat salah satu ruangan di rumah sakit ini. Kira kira kalau kalian masuk ke ruang keperawatan itu apa yang akan kalian lakukan?”
Ucap dikie setengah mengejek.
“ah.., gampang itu. Aku tinggal ketok pintu, ucapin salam, terus senyum sana senyum sini sama kakak kakak yang ada di ruangan”
Ucap donie konyol
“ahh.., kamu don…, nenek nenek shampoan juga bisa kalo Cuma sekedar gitu aja. Gag perlu kita kuliah jauh jauh dan mahal mahal”
“hush sudah sudah, gag usah berantem mendingan sekarang kita langsung ke ruangan”
Ucap ndut menengahi..,
Aku, ndut, donie, dikie menuju paviliun jantung. Melesat dengan cepat. Setelah beberapa menit akhirnya tiba juga di ruangan.
“subahanallah, jantungku rasanya berdebar lebih kuat. Seolah olah mau copot, dinginnya ac di ruangan ini membuat aku lebih gugup”
Gumamku dalam hati..,
Setelah pembagian ruangan, aku dan ndut dapet di ruangan yang sama. Sebisa mungkin jadi perawat yang caring, dan empati. Setiap kali aku dan ndut mengunjungi kamar pasien pasti selalu senyum. senyum sana senyum sini. Entah saat itu apa yang ada di benak kita berdua. Kita Cuma berfikir, “inilah aku, aku sekarang seorang perawat sungguhan” betapa bangga nya kita berdua saat itu.., walaupun saat itu posisi aku dan ndut hanya sekedar bantu bantu pasien. Tapi ada rasa yang berbeda. Apa lagi kalo pasien bilang “suster, terimakasih ya” rasa rasanya ingin sekali melambung tinggi mendengar kata kata itu.
Saat itu aku dan ndut Cuma bisa tersenyum lebar “ia sama sama”

        Ternyata bener apa kata Mr.Strong, beliau selalu bilang “hidup itu ibarat minum jamu. Kalau kamu minum gulanya dulu terus baru minum jamu nya, itu pasti rasanya gag akan enak, karena pada ujungnya rasanya pasti pahit. Tapi kalo kamu lebih milih minum jamunya dulu terus gula nya, pasti akan terasa nikmat. Di awal memang terasa pahit, tapi di akhir pasti akan terasa manis”
Dari kata kata itu aku berfikir, untuk menginginkan sesuatu gag harus berjalan lancar dengan apa yang kita harapkan. Like a nurse.  Kalau mau berada di posisi atas maka harus siap

0 komentar:

Posting Komentar

 
;